Rabu, 12 Maret 2014

ANAK JALANAN ALSO WANT CLEVER



                                   Dibawah panasnya terik matahari,aku mengendarai motor bersama kakaku ditengah keramaian kota Garut. Kami terus melaju mengendarai motor ke arah tujuan kami yaitu Kampus STKIP,tempat kuliahku nanti. Insya Allah…!!
Kami pergi ke kampus STKIP untuk mencari tau tentang informasi pendaftaran. Walau panas aku tetap semangat berangkat untuk menimba ilmu baru setelah aku lulus dari SMA ku, SMAN 24 GARUT. Selain keinginanku untuk menimba ilmu yang lebih tinggi, aku pun tak sabar untuk mengucapkan “Selamat Datang”  kepada tempat baru, kelas baru,guru yang nanti aku panggil dosen, dan yang paling penting aku menjadi seorang Mahasiswi.
                     Ketika hendak pulang, seperti biasa kakakku mengajak beristirahat dan aku mengajaknya untuk pergi makan dan shalat ashar yang pada saat itu adzan ashar berkumandang. Setelah shalat kami pun makan , tak sengaja aku memperhatikan sekumpulan anak jalanan yang sedang mengamen , mengemis, jual Koran dll. Dan mungkin itu sudah menjadi pemandangan biasa. Tanpa sadar aku berkomentar “Anak-anak itu kasian ya. Mestinya orang tua mereka yang bekerja dengan lumrah,bukannya anak yang disuruh ngemis atau kerja seperti itu”. Dan sesaat kakakku hanya tersenyum mendengar komentarku.
                     Seketika saat aku mengunyah makanan,datanglah beberapa anak jalanan yang mengamen ke rumah makan yang kami kunjungi pada saat itu. Demi kenyamanan saat makan dan tidak ingin merasa terganggu aku langsung bergegas membuka tas dan mengambil uang recehan lalu memberikannya kepada pengamen tersebut.
                     Waktu pun menjelang malam, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Ketika sedang mengendarai motor menuju arah pulang,kami melihat ada sekumpulan para anak jalanan yang  sedang berkelahi dan aku menyuruh kakakku memberhentikan motor untuk menghampiri mereka. Rupanya mereka sedang memperebutkan beberapa baju dan buku bekas yang diberikan oleh seorang ibu-ibu. Melihat kejadian seperti itu,aku melerai mereka dengan alasan agar mereka saling berbagi dengan adil dan mereka pun mengerti. “kalian tinggal dimana?” tanyaku, “kami tinggal diterminal kak” sahut seorang anak yang berbadan gendut. “kalian masih sekolah?” Tanya kakakku, “tidak pak,kami tidak mempunyai biaya untuk sekolah. Memangnya kenapa bapak menanyakan hal itu kepada kami? Bapak mau menghina kami? Kalau sekiranya hanya ingin menghina kami,lebih baik kalian pergi saja”sambung salah seorang anak berambut keriting diantara anak lainnya. “Tidak dik !! kakak malah ingin membantu kalian” jawabku. Ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulutku tanpa ku piker sebelumnya. “dimana kakak bias menemui kalian?” sambungku, “diterminal kak,kami setiap siang selalu ada disana” jawab seorang anak. “Okelah,InsyaAllah minggu depan kakak akan menemui kalian disana. Mungkin sekitar jam 2 sore,bisa tidak?” ujarku “iya kak” sahut mereka dengan kompak.,“Sip,kami pulang dulu ya adik-adik” kakakku berpamitan.
Diperjalanan aku terus memikirkan kisah kehidupan mereka dan membandingkannya dengan kehidupanku yang cukup lebih baik daripada mereka. Aku menyadari bahwa menjalani hidup serba kekurangan itu sangat sulit dan tidak mudah untuk mereka lalui. Tidak seharusnya aku berpikir bahwa pengamen-pengamen yang tadi dating ke rumah makan bekerja tidak halal atau rendahan. Ya setidaknya mereka menghibur dengan suara dan alunan musik yang mereka mainkan.
                     Hari pun telah berganti dan tak terasa minggu setelah kejadian itu pun tiba. Aku menemui mereka ditempat yang sudah dijanjikan. Dari kejauhan aku melihat anak-anak itu. Aku langsung menghampiri dan menyahut mereka “Hai adik-adik apa kabar?” tanyaku. “baik-baik saja kok kak” jawab mereka. “sepertinya kalian terlihat lelah. Kalian mau bakso tidak?”tanyaku lagi. Dan tanpa berpikir  panjang mereka berteriak  “maaauuuuuu..!!!” . “Oke setelah itu kita belajar” ujarku.
                     Setelah kami selesai makan,aku mengajak mereka belajar. Melihat semangat mereka yang ingin belajar, memotivasiku untuk tidak menyerah menimba ilmu disekolah dan kuliah yang InsyaAllah akan aku jalani. Aku harap dengan aku mengajarkan mereka belajar dapat membuat mereka menjadi lebih pintar dan semakin besar rasa ingin belajar mereka kelak. Tak terasa waktu sudah sore, belajar kami hentikan dan dilanjutkan di minggu selanjutnya.
Aku masih memikirkan bagaimana cara membuat mereka dapat membaca,menulis dan berhitung sperti anak-anak normal seusia mereka. Menjelang maghrib, aku pulang dan menceritakan pengalaman tadi kepada orang tuaku dan mereka senang dengan niat dan usaha untuk membantu anak-anak jalanan dengan hal positif.
                     Seiring dengan berjalannya waktu,aku berhasil mengajarkan mereka membaca,menulis dan berhitung. Aku sangat senang dan merasa berguna. Dari pengalaman ini aku mengerti bahwa anak jalanan juga butuh pendidikan yang layak, hanya kesempatan untuk belajarlah yang berbeda dengan apa yang kita miliki. Bersyukurlah dan berpikir bahwa apa yang kita miliki belum tentu orang lain bisa memilikinya dan orang yang sudah diberi kesempatan untuk memilki belum tentu dapat  merasakan sama seperti yang kita rasakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar