Dibawah
panasnya terik matahari,aku mengendarai motor bersama kakaku ditengah keramaian
kota Garut. Kami terus melaju mengendarai motor ke arah tujuan kami yaitu
Kampus STKIP,tempat kuliahku nanti. Insya Allah…!!
Kami pergi ke kampus STKIP untuk mencari
tau tentang informasi pendaftaran. Walau panas aku tetap semangat berangkat
untuk menimba ilmu baru setelah aku lulus dari SMA ku, SMAN 24 GARUT. Selain
keinginanku untuk menimba ilmu yang lebih tinggi, aku pun tak sabar untuk
mengucapkan “Selamat Datang” kepada
tempat baru, kelas baru,guru yang nanti aku panggil dosen, dan yang paling
penting aku menjadi seorang Mahasiswi.
Ketika
hendak pulang, seperti biasa kakakku mengajak beristirahat dan aku mengajaknya
untuk pergi makan dan shalat ashar yang pada saat itu adzan ashar berkumandang.
Setelah shalat kami pun makan , tak sengaja aku memperhatikan sekumpulan anak
jalanan yang sedang mengamen , mengemis, jual Koran dll. Dan mungkin itu sudah
menjadi pemandangan biasa. Tanpa sadar aku berkomentar “Anak-anak itu kasian
ya. Mestinya orang tua mereka yang bekerja dengan lumrah,bukannya anak yang
disuruh ngemis atau kerja seperti itu”. Dan sesaat kakakku hanya tersenyum
mendengar komentarku.
Seketika
saat aku mengunyah makanan,datanglah beberapa anak jalanan yang mengamen ke
rumah makan yang kami kunjungi pada saat itu. Demi kenyamanan saat makan dan
tidak ingin merasa terganggu aku langsung bergegas membuka tas dan mengambil
uang recehan lalu memberikannya kepada pengamen tersebut.
Waktu
pun menjelang malam, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Ketika sedang
mengendarai motor menuju arah pulang,kami melihat ada sekumpulan para anak
jalanan yang sedang berkelahi dan aku
menyuruh kakakku memberhentikan motor untuk menghampiri mereka. Rupanya mereka
sedang memperebutkan beberapa baju dan buku bekas yang diberikan oleh seorang
ibu-ibu. Melihat kejadian seperti itu,aku melerai mereka dengan alasan agar
mereka saling berbagi dengan adil dan mereka pun mengerti. “kalian tinggal
dimana?” tanyaku, “kami tinggal diterminal kak” sahut seorang anak yang
berbadan gendut. “kalian masih sekolah?” Tanya kakakku, “tidak pak,kami tidak
mempunyai biaya untuk sekolah. Memangnya kenapa bapak menanyakan hal itu kepada
kami? Bapak mau menghina kami? Kalau sekiranya hanya ingin menghina kami,lebih
baik kalian pergi saja”sambung salah seorang anak berambut keriting diantara
anak lainnya. “Tidak dik !! kakak malah ingin membantu kalian” jawabku. Ucapan
itu tiba-tiba keluar dari mulutku tanpa ku piker sebelumnya. “dimana kakak bias
menemui kalian?” sambungku, “diterminal kak,kami setiap siang selalu ada
disana” jawab seorang anak. “Okelah,InsyaAllah minggu depan kakak akan menemui
kalian disana. Mungkin sekitar jam 2 sore,bisa tidak?” ujarku “iya kak” sahut
mereka dengan kompak.,“Sip,kami pulang dulu ya adik-adik” kakakku berpamitan.
Diperjalanan aku terus memikirkan
kisah kehidupan mereka dan membandingkannya dengan kehidupanku yang cukup lebih
baik daripada mereka. Aku menyadari bahwa menjalani hidup serba kekurangan itu
sangat sulit dan tidak mudah untuk mereka lalui. Tidak seharusnya aku berpikir
bahwa pengamen-pengamen yang tadi dating ke rumah makan bekerja tidak halal
atau rendahan. Ya setidaknya mereka menghibur dengan suara dan alunan musik
yang mereka mainkan.
Hari
pun telah berganti dan tak terasa minggu setelah kejadian itu pun tiba. Aku
menemui mereka ditempat yang sudah dijanjikan. Dari kejauhan aku melihat
anak-anak itu. Aku langsung menghampiri dan menyahut mereka “Hai adik-adik apa
kabar?” tanyaku. “baik-baik saja kok kak” jawab mereka. “sepertinya kalian
terlihat lelah. Kalian mau bakso tidak?”tanyaku lagi. Dan tanpa berpikir panjang mereka berteriak “maaauuuuuu..!!!” . “Oke setelah itu kita
belajar” ujarku.
Setelah
kami selesai makan,aku mengajak mereka belajar. Melihat semangat mereka yang
ingin belajar, memotivasiku untuk tidak menyerah menimba ilmu disekolah dan
kuliah yang InsyaAllah akan aku jalani. Aku harap dengan aku mengajarkan mereka
belajar dapat membuat mereka menjadi lebih pintar dan semakin besar rasa ingin
belajar mereka kelak. Tak terasa waktu sudah sore, belajar kami hentikan dan
dilanjutkan di minggu selanjutnya.
Aku masih memikirkan bagaimana
cara membuat mereka dapat membaca,menulis dan berhitung sperti anak-anak normal
seusia mereka. Menjelang maghrib, aku pulang dan menceritakan pengalaman tadi
kepada orang tuaku dan mereka senang dengan niat dan usaha untuk membantu
anak-anak jalanan dengan hal positif.
Seiring
dengan berjalannya waktu,aku berhasil mengajarkan mereka membaca,menulis dan
berhitung. Aku sangat senang dan merasa berguna. Dari pengalaman ini aku
mengerti bahwa anak jalanan juga butuh pendidikan yang layak, hanya kesempatan
untuk belajarlah yang berbeda dengan apa yang kita miliki. Bersyukurlah dan
berpikir bahwa apa yang kita miliki belum tentu orang lain bisa memilikinya dan
orang yang sudah diberi kesempatan untuk memilki belum tentu dapat merasakan sama seperti yang kita rasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar